English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 22 Maret 2021

Rekomendasi Mingguan Emas 22 – 26 Maret 2021: “Come Back” ke Arena “Assets Class”

 PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo - Emas kembali masuk ke dalam radar para investor dengan harga emas diakhir minggu menguat meskipun terjadi kenaikan yields obligasi AS.

Setelah diperdagangkan mendekati level tertinggi selama tiga minggu menyusul pernyataan dari Federal Reserve yang dovish, emas berhasil mengabaikan kenaikan yield treasury AS 10 tahun yang mencapai level tertinggi selama 14 bulan di 1.75% pada hari Jumat yang lalu.

Emas berjangka kontrak bulan April diperdagangkan di sekitar $1,745.60 per troy ons, naik lebih dari 1% selama seminggu yang lalu.

Baca Juga :

The Fed merevisi naik ekspektasi dari inflasi dan GDP AS tahun 2021. Inflasi menjadi 2.4% sementara GDP AS menjadi 6.5%. Selain itu the Fed menekankan bahwa tingkat bunga akan tetap mendekati nol sampai tahun 2023. Gubernur Fed Jerome Powell terus menyebut setiap kenaikan harga sebagai “transitory” sambil mengabaikan kenaikan dari yields obligasi AS.

Pada hari Jumat minggu lalu, the Fed memicu penjualan obligasi yang baru yang menaikkan yields AS dan mendorong dollar AS naik lebih jauh, dengan menolak untuk memperpanjang pengecualian peraturan leverage bank temporer yang akan jatuh tempo pada akhir bulan.

Dalam hal ini, emas memperlihatkan performa yang bagus dengan tetap bertahan diatas $1,730 per ons, sementara harga saham dan minyak mentah jatuh.

Emas sebagai “asset class” telah bergerak naik dalam daftar investasi dari investor setelah terdiam untuk sementara waktu lamanya. Sebagian investor mulai melirik kepada emas lagi ditengah volatilitas pasar. Beberapa hari ini, emas telah diperdagangkan lebih baik daripada komoditas lainnya termasuk perak dan tembaga.

Selain itu, ketegangan geopolitik kembali muncul di radar setelah lenyap beberapa waktu lamanya. Para pejabat tinggi AS dan Cina bertikai selama pertemuan tingkat tinggi yang pertama kalinya di adakan oleh pemerintahan AS yang baru. Amerika Serikat menyatakan keprihatinannya atas tindakan Cina di Xinjiang, Hong Kong, Taiwan dan serangan cyber terhadap AS, pemaksaan ekonomi terhadap sekutu AS. Sementara Cina mengatakan bahwa AS menggunakan kekuatan militer dan hegemoni keuangannya melampaui jurisdiksinya dan menekan negara-negara lain.

Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari setelah Joe Biden menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pembunuh selama interview dengan kantor berita ABC.

Dengan disrupsi pandemik Covid – 19, ketegangan geopolitik mereda, namun kalau hal ini akan berubah, emas bisa bereaksi positip. Ketidakpastian geopolitik telah melangkah masuk dan menjadi pusat pemberitaan, bersamaan dengan yields AS dan volatilitas pasar. Jika geopolitik meningkat, akan ada pembelian terhadap assets safe-haven.

Meskipun demikian, emas masih beresiko turun. Emas masih bisa turun ke $1,700 dengan mudah jika yields AS terus naik. Sebaliknya kenaikan ke $1,750 bisa memicu tren bullish.

Minggu ini akan ada serombongan anggota dari Federal Reserve yang akan berbicara, termasuk penampilan bersama di depan Senate Banking Committee dari Gubernur the Fed Jerome Powell dan Treasury Secretary Janet Yellen pada hari Rabu.

“Support” terdekat menunggu di $1,727.10 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,702.15 dan kemudian $1,673.30. “Resistance” terdekat menunggu di $1,754.20 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,769.42 dan kemudian $1,803.06. PT Rifan Financindo.


Sumber : Vibiznews

Jumat, 19 Maret 2021

Rekomendasi Emas 19 Maret 2021: Berbalik Turun dengan Menguatnya USD

 

Rifanfinancindo - Harga emas turun pada awal perdagangan sesi AS hari Kamis, dengan berbalik naiknya dollar AS setelah sempat mengalami penurunan sebagai reaksi awal atas pernyataan dari the Fed setelah pertemuan FOMC pada hari Rabu.

Emas berjangka kontrak bulan April turun $11 ke $1,734.00 per troy ons.

Pasar saham global kebanyakan naik dalam perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah bervariasi menuju turun pada saat perdagangan sesi New York dimulai karena aksi ambil untung setelah Dow Jones dan S&P 500 mencetak rekor ketinggian baru pada hari Rabu.

Baca Juga :

Reaksi awal terhadap pernyataan the Fed setelah pertemuan FOMC, dengan turunnya yields AS dan melemahnya dollar AS telah meredup pada hari Kamis. Para investor memfokuskan diri kepada aspek yang lebih positip dari keputusan the Fed, yaitu proyeksi employment dan pertumbuhan ekonomi yang direvisi naik. Terlebih lagi, pasar memiliki pikiran kedua atas pernyataan Powell yang terus diulangi, bahwa inflasi pada musim semi adalah suatu transisi. Akibatnya terjadi aksi jual yang cepat atas obligasi AS dengan yields treasury 10 tahun naik menyentuh 1.744% yang mendorong naik dollar AS.

Di dalam skema yang lebih besar, dollar AS mengalami kenaikan ditengah kuatnya ekonomi AS yang mengalami keuntungan dari suntikan stimulus fiscal sebesar $1.9 triliun dan juga dari cepatnya kampanye vaksin di AS.

“Support” terdekat menunggu di $1,719.20 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,700.00 dan kemudian $1,673.30. “Resistance” terdekat menunggu di $1,738.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,750.00 dan kemudian $1,768.56. Rifanfinancindo.

Sumber : Vibiznews

Kamis, 18 Maret 2021

Rekomendasi Emas 18 Maret 2021: Naik ke Teritori Positip Setelah FOMC


Rifan Financindo - Harga emas naik ke teritori positip setelah Federal Reserve AS mengulangi sikapnya bahwa tingkat bunga tidak akan naik segera meskipun ekspektasi atas pertumbuhan ekonomi dan inflasi melompat secara signifikan.

Emas berjangka kontrak bulan April saat ini diperdagangkan naik ke $1,750.40 per troy ons, naik lebih dari 0.61%.

Sebagaimana yang telah diduga, Federal Reserve AS tidak mengubah tingkat bunga yang sudah mendekati Nol. Menurut proyeksi ekonomi yang terbaru dari the Fed, bank sentral AS ini cukup optimis dengan pertumbuhan ekonomi AS sampai pada akhir tahun dengan tingkat bunga diperkirakan tetap rendah.

Baca Juga :

The Fed juga mencatat adanya sedikit perbaikan di dalam kondisi ekonomi AS saat ini dibandingkan dengan pada saat pertemuan mereka yang terakhir di bulan Januari.

Namun, meskipun pemulihan ekonomi memanas selama 2021, komite bank sentral AS ini masih tidak melihat akan terjadinya kenaikan dalam tingkat bunga selama 2023. Dalam proyeksi tingkat bunganya yang terbaru, bank sentral AS ini memperkirakan tingkat bunga akan tetap tidak berubah selama 2023, tidak berubah dari outlook mereka pada bulan Desember.

“Support” terdekat menunggu di $1,740.30 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,733.03 dan kemudian $1,718.11. “Resistance” terdekat menunggu di $1,755.88 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,762.76 dan kemudian $1,775.00. Rifan Financindo.


Sumber : Vibiznews

Rabu, 17 Maret 2021

Harga Emas Tertekan Menanti Kepastian Kebijakan The Fed

 20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

PT Rifan Financindo - Harga emas melemah pada hari Selasa, tertekan oleh kenaikan dolar, karena investor menunggu isyarat kebijakan dari pertemuan dua hari Federal Reserve AS.

Dikutip dari CNBC, Rabu (17/3/2021), Harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 1.729,21 per ounce. Emas berjangka AS turun 0,1 persen menjadi USD 1.727,20.

"Harga emas seharusnya menemukan dasar tetapi risiko besar adalah The Fed, dan jika Fed tidak menekan kembali pasar obligasi, Anda dapat melihat panic selling satu hari (dalam emas)," kata Edward Moya, senior market. analis di OANDA.

Baca Juga :

Pertemuan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal AS berakhir pada Rabu.

Bank sentral diperkirakan akan mengulangi janjinya untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai perekonomian mencapai lapangan kerja penuh.

Dolar naik 0,1 persen, meningkatkan biaya memegang emas dalam mata uang lain. Emas bisa naik dengan imbal hasil Treasury AS dalam beberapa bulan ke depan, karena pergerakan mendekati 2 persen dalam imbal hasil dapat menggagalkan pembelian pasar saham tanpa henti dan mengembalikan daya tarik emas sebagai safe haven, Moya menambahkan.

Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi telah menumpulkan daya tarik emas non-interest bearing.

“Prospek teknis jangka pendek sangat bearish dan itu mengundang pedagang profesional untuk mempersingkat pasar (harga emas). Ini bisa membutuhkan semacam percikan geopolitik untuk mengubah pasar ini,” kata analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

Paket Stimulus AS Disahkan, Bagaimana Dampaknya ke Harga Emas Pekan Ini?
Harga emas diperkirakan akan menguat secara jangka pandek pada pekan ini. Hal tersebut terimbas dari ditandatanganinya paket stimulus USD 1,9 triliun setara Rp 27.196 triliun.

Namun, beberapa analis memperkirakan bahwa stimulus tersebut justru akan mendorong kenaikan pasar saham sehingga menekan harga emas.

Untuk diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akhirnya menandatangani bantuan atau stimulus ekonomi senilai USD 1,9 triliun setara Rp 27.196 triliun menjadi undang-undang. Bantuan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah Amerika.

Mengutip Kitco, Senin (15/3/2021), pada pekan lalu harga emas mampu bertahan di kisaran USD 1.700 per ounce setelah mengalami tekanan yang cukup besar. Pada pekan lalu, harga emas sempat berada di level terendah dalam 10 pekan.

Namun untuk minggu ini analis memperkirakan harga emas akan mendapat dukungan dari paket stimulus yang telah ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden. Namun beberapa analis lain mencatat bahwa paket stimulus ini mendorong transaksi di pasar saham dan obligasi.

"Mengecewakan melihat harga emas tidak lebih tinggi setelah paket stimulus USD 1,9 triliun disahkan. Jika emas tidak bisa naik, saya tidak tahu apa yang akan mendorongnya lebih tinggi," kata Presiden Phoenix Futures and Options LLC, Kevin Grady.

"Gerak emas sepertinya tidak tampak bagus pada minggu ini. tetapi saya memberikan posisi netral," tambah dia.

Pada pekan ini, 16 analis berpartisipasi dalam survei yang diselenggarakan oleh Kitco. Sebanyak 6 pemilih atau 38 persen menyerukan harga emas naik. Sementara itu, pemilih netral lima analis atau 31 persen. Sedangkan mereka yang melihat harga emas akan lebih rendah juga lima analis atau 31 persen.

Sedangkan pelaku pasar yang ikut dalam survei Kitco mencapai 1.611 suara. Di antara mereka 1.003, atau 62 persen mengatakan harga emas akan naik. Sedangkan 364 pelaku pasar atau 23 persen mengatakan harga emas tertekan.

Selain itu, 244 pemilih atau 15 persen memilih harga emas akan bergerak stabil atau netral pada pekan ini. PT Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Selasa, 16 Maret 2021

Akhirnya, Harga Emas Menguat Kembali karena Penurunan Imbal Hasil Obligasi AS

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

Rifanfinancindo -  Harga emas naik pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan harga emas adalah penurunan imbal hasil obligasi AS dari rekor tertinggi.

Saat ini, inevstor lebih memilih untuk menunggu (wait and see) hasil dari pertemuan Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).
 

Mengutip CNBC, Selasa (16/3/2021), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi USD 1.729,94 per ounce pada pukul 1.47 siang EDT. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik 0,5 persen menjadi USD 1.729,20 per ounce.

Baca Juga :

"Imbal hasil obligasi AS pada perdagangan Senin pagi turun, hal ini dianggap sebagai peluang bagi sebagian investor untuk melakukan aksi beli di emas," jelas Direktur Perdagangan Logam Mulia High Ridge Futures, David Meger.

Meger melanjutkan, perdebatan yang ada saat ini apakah apakah kenaikan imbal hasil yang didorong oleh optimisme pemulihan ekonomi akan terus menekan harga emas. Atau jika pertumbuhan terhenti atau inflasi meningkat akan mendukung harga emas.

Imbal hasil obligasi AS turun dari puncak tertinggi dalam satu tahun pada perdagangan Senin. Hal ini memulihkan daya tarik instrumen investasi tanpa bunga seperti emas.

“Kapanpun imbal hasil obligasi mencapai puncak, itu akan menjadi awalan bagi emas untuk kembali menguat,” kata kepala analis Blue Line Futures Chicago, Phillip Streible.

“Mereka (Obligasi AS) masih memiliki ruang untuk berkembang lebih tinggi tetapi hasil tidak akan naik selamanya, jadi akan ada titik balik. Semakin tinggi kita pergi, semakin dekat kita ke titik balik.” tambah dia.

Investor menunggu pertemuan the Fed yang berlangsung selama dua hari. Pertemuan tersebut dimulai pada hari Selasa waktu setempat dengan fokus pada lonjakan imbal hasil obligasi AS, kekhawatiran kenaikan inflasi dan prospek ekonomi.

Sinyal dari the Fed akan memberikan gambaran kepada investor mengenai gerak harga emas ke depannya.

Paket Stimulus AS Disahkan, Bagaimana Dampaknya ke Harga Emas Pekan Ini?
Sebelumnya, harga emas diperkirakan akan menguat secara jangka pandek pada pekan ini. Hal tersebut terimbas dari ditandatanganinya paket stimulus USD 1,9 triliun setara Rp 27.196 triliun.

Namun, beberapa analis memperkirakan bahwa stimulus tersebut justru akan mendorong kenaikan pasar saham sehingga menekan harga emas.

Untuk diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akhirnya menandatangani bantuan atau stimulus ekonomi senilai USD 1,9 triliun setara Rp 27.196 triliun menjadi undang-undang. Bantuan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah Amerika.

Mengutip Kitco, Senin (15/3/2021), pada pekan lalu harga emas mampu bertahan di kisaran USD 1.700 per ounce setelah mengalami tekanan yang cukup besar. Pada pekan lalu, harga emas sempat berada di level terendah dalam 10 pekan.

Namun untuk minggu ini analis memperkirakan harga emas akan mendapat dukungan dari paket stimulus yang telah ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden. Namun beberapa analis lain mencatat bahwa paket stimulus ini mendorong transaksi di pasar saham dan obligasi.

"Mengecewakan melihat harga emas tidak lebih tinggi setelah paket stimulus USD 1,9 triliun disahkan. Jika emas tidak bisa naik, saya tidak tahu apa yang akan mendorongnya lebih tinggi," kata Presiden Phoenix Futures and Options LLC, Kevin Grady.

"Gerak emas sepertinya tidak tampak bagus pada minggu ini. tetapi saya memberikan posisi netral," tambah dia.

Pada pekan ini, 16 analis berpartisipasi dalam survei yang diselenggarakan oleh Kitco. Sebanyak 6 pemilih atau 38 persen menyerukan harga emas naik. Sementara itu, pemilih netral lima analis atau 31 persen. Sedangkan mereka yang melihat harga emas akan lebih rendah juga lima analis atau 31 persen.

Sedangkan pelaku pasar yang ikut dalam survei Kitco mencapai 1.611 suara. Di antara mereka 1.003, atau 62 persen mengatakan harga emas akan naik. Sedangkan 364 pelaku pasar atau 23 persen mengatakan harga emas tertekan.

Selain itu, 244 pemilih atau 15 persen memilih harga emas akan bergerak stabil atau netral pada pekan ini. Rifanfinancindo.

Sumber : Liputan 6

Senin, 15 Maret 2021

Rekomendasi Emas 15 – 19 Maret 2021: Tersandera Pasar Treasury AS

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

Rifan Financindo - Apakah emas telah menyentuh dasarnya pada level terendah dalam 10 bulan minggu yang lalu? Para analis sedang menunggu apakah metal berharga kuning ini bisa bertahan di level $1,700 per troy ons dan membebaskan diri ikatan pasar Treasury.

Setelah sempat turun ke $1,675 pada hari Senin minggu yang lalu, emas berjangka kontrak bulan April berhasil naik kembali ke atas $1,730.

Pada hari Jumat minggu lalu, emas sempat mengalami penurunan namun berhasil bertahan di level $1,700 per ons ditengah naiknya yields Treasury AS. Pasar obligasi mengalami aksi jual setelah undang – undang stimulus senilai $1.9 triliun berhasil ditandatangani pada hari Kamis. Pada saat ini, emas berjangka Comex kontrak bulan April diperdagangkan disekitar $1,727.51.

Baca Juga :

Yields obligasi AS 10 tahun sedang mengalami kenaikan dan kurvanya naik tajam. Hal ini bisa berlanjut apabila data ekonomi yang keluar membaik dan adanya pembicaraan mengenai inflasi. Meningkatnya minat terhadap resiko membawa kepada naiknya yields AS. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang baik bagi emas. Metal berharga tersandera oleh pasar Treasury AS.

Yields Treasury AS 10 tahun naik diatas 1.60% dalam perdagangan semalam. Harga emas di level $1,675 bisa jadi level terendah bagi emas saat ini namun semua tergantung kepada pergerakan dari yields AS apakah akan terus naik.

Paket stimulus AS senilai $1.9 triliun juga bersifat inflationary. Pasar mengharapkan para konsumen mulai keluar dan membelanjakan uangnya. Apalagi jika setiap orang sudah divaksinasi di Amerika Serikat, kurva yields AS akan berespon dan emas akan mengalami saat yang sulit. Belum lagi pasar sudah mulai memperhitungkan dalam harga langkah – langkah stimulus berikutnya termasuk belanja infrastruktur.

Korelasi sekarang ini antara yields AS dan emas adalah pada saat yields AS naik, emas turun. Namun hal ini bisa berubah kedepannya, dan sekali berubah, emas bisa naik lebih tinggi.

Pada akhirnya, korelasi sekarang ini akan berubah. Federal Reserve AS mengakui mereka melihat inflasi dan mungkin harus menaikkan tingkat bunga lebih cepat daripada yang dipikirkan dan hal ini akan merubah korelasi saat ini. Atau bahkan hanya dengan mengakui bahwa naiknya yields AS membuat prihatin, hal ini akan bisa menjadi factor bullish bagi emas.

The Fed selama ini mengabaikan isu yields AS. Karenanya semua mata akan tertuju kepada Gubernur the Fed Jerome Powell pada minggu ini yang akan mengadakan acara konferensi pers setelah pengumuman tingkat bunga pada hari Rabu.

ECB pada hari Kamis minggu lalu, mengatakan bahwa mereka prihatin dengan inflasi dan pencetakan uang. ECB akan menggunakan Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP) untuk menghentikan setiap kenaikan biaya hutang yang tidak beralasan.

Presiden ECB, Christine Lagarde mengatakan,”naiknya yields akan bisa berubah bentuk menjadi pengetatan belanja di seluruh sector ekonomi secara premature. Sementara, ECB ingin memelihara kondisi keuangan yang baik dengan inflasi hanya mengintip disepanjang jalan.

Jika saja the Fed memiliki pandangan yang sama seperti ini, hal ini akan menjadi factor bullish bagie mas. Kenyataan bahwa yields AS terus naik pada saat ini menunjukkan bahwa the Fed kehilangan kontrol.

Selain itu pasar akan memperhatikan proyeksi kuartalan dari the Fed yang diperkirakan akan merevisi naik GDP AS 2021.

Dari kalender ekonomi, data makro ekonomi lainnya yang akan keluar adalah angka Retail Sales AS. Setelah lompatan yang besar ke 5.3% pada bulan Januari, angka untuk bulan Februari kemungkinan akan turun ke 0%. Meskipun demikian, dukungan dari paket stimulus sebelumnya  bisa memberikan dampak yang positip dan mendorong naik dollar AS.

Angka klaim pengangguran mingguan juga menarik perhatian, dimana kemungkinan terjadi penurunan yang bertahap.

Kritikal untuk melihat bagaimana emas bereaksi pada minggu ini disekitar level $1,700 per ons. Pergerakan ke arah $1,760 akan merupakan signal kemungkinan terjadinya rally, sementara penurunan dibawah $1,670 membuka pintu kepada kejatuhan ke $1,600 per ons. $1,670 adalah level support yang jika tertembus akan bisa turun sampai ke $1600. Kondisi saat ini berbahaya untuk melakukan aksi jual emas namun juga kurang menguntungkan untuk membeli emas pada harga sekarang.

“Support” terdekat menunggu di $1,714.51 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,700.00 dan kemudian $1,673.30. “Resistance” terdekat menunggu di $1,735.10 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,747.79 dan kemudian $1,760.00. Rifan Financindo.

Sumber : Vibiznews

Rabu, 10 Maret 2021

Rekomendasi Emas 10 Maret 2021: Kenaikan Solid Emas Terancam Turun?

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

PT Rifan Financindo - Harga emas naik cukup solid pada awal perdagangan sesi AS hari Selasa ditengah turunnya yields AS dan melemahnya indeks dollar AS. Namun penyebab kenaikan kebanyakan karena koreksi normal, yaitu bangkitnya harga emas akibat aksi “short-covering” setelah emas turun ke level terendah 10 bulan pada hari Senin.

Emas berjangka kontrak bulan April terakhir naik $35.50 ke $1,713.00 per troy ons. Sementara perak Comex bulan Mei naik $0.506 ke $25.765 per ons.

Pasar saham global bervariasi mengarah menguat dalam perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah naik secara solid ketika perdagangan sesi New York dimulai. Yields pasar obligasi mengalami penurunan pada hari Selasa, yang mendorong minat terhadap resiko dari para trader dan investor dan mendorong naik harga saham.

Baca Juga :

Sementara itu, OECD memperkirakan ekonomi global akan mengalami rebound kembali ke level pertumbuhan sebelum pandemik pada pertengahan tahun ini, dengan pertumbuhan 5.6%. OECD memandang ekonomi AS akan bertumbuh sebanyak 6.5% pada tahun 2021 – dua kali lipat dari perkiraan pada bulan November tahun lalu.

Meskipun demikian potensi kenaikan harga emas terancam oleh karena Kongres AS sebentar lagi akan mengeluarkan paket kelegaan coronavirus yang massif sebesar $1.9 triliun. Penerbitan surat hutang yang lebih banyak lagi akan membuat naiknya yields dan dollar AS.

Amerika Serikat akan mengadakan lelang obligasi 3 tahun pada hari Selasa dan 10 tahun pada hari Rabu yang diamati oleh pasar dengan seksama. Naiknya Kembali imbal hasil obligasi AS bisa memicu naiknya kembali dollar AS dan mengakhiri ketenangan pasar pada sekarang ini.

“Support” terdekat menunggu di $1,681.30 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,673.30 dan kemudian $1,650.00. “Resistance” terdekat menunggu di $1,725.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,739.00 dan kemudian $1,757.40. PT Rifan Financindo.

Sumber : Vibiznwes

 
Disclaimer: Semua informasi yang tersedia dalam blog ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan informasi yang terbaik, akan tetapi kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blog ini.

PT. Rifan Financindo Berjangka Surabaya
Wisma Bii Lt. 16 Jl. Pemuda 60-70 Surabaya 60271 Telp : 031-5349800(hunting), Fax : 031-5347800