English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 10 April 2019

Peneliti: Utang Era SBY Tumbuh 14 Persen, Jokowi 7 Persen

IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau

Rifanfinancindo - Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pemimpin Indonesia dalam lima tahun mendatang harus melakukan dua hal agar ekonomi Indonesia membaik.

Pertama, dari asumsi makro dan kedua mengenai pengendalian pertumbuhan utang.  Utang, kata Yusuf, masih sesuatu yang harus dikendalikan walaupun kondisi utang Indonesia masih relatif aman.

Menurut dia, utang pada pemerintah Jokowi hanya tumbuh sebesar 7 persen berbeda dengan 2004 hingga 2014 yaitu saat kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) utang tumbuh 14 persen.

Baca Juga :
"Mengenai utang, setiap tahun pertumbuhan utang rata-rata 7 persen. Ini lebih rendah dari 2004 hingga 2014 yang mencapai 14 persen," ujar Yusuf saat memberi paparan jumpa pers di Hongkong Cafe, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Yusuf mengatakan, meskipun ada pertumbuhan utang yang berbeda, hingga kini utang Indonesia relatif aman karena masih dalam batas sekitar 30 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Angka ini tentu lebih rendah jika dibandingkan dengan Jepang sebesar 120 persen.

"Ketika bicara utang, narasi adalah utang relatif aman. Saya setuju karena utang berada di kisaran 30 persen dari PDB, bandingkan dengan Jepang, mereka sekitar 120 persen," ujar dia.

IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau
Namun demikian, perbedaan Indonesia dan Jepang adalah negara itu memiliki porsi komposisi utang dalam negeri yang lebih besar. Sementara Indonesia memiliki porsi utang luar negeri lebih besar yang menyebabkan rentan terhadap guncangan global.

"Perlu jadi catatan adalah komposisi utang. Jepang, utang di dalam negeri lebih banyak sehingga perputaran uangnya juga di dalam negeri. Artinya, ketika terjadi gonjang ganjing ekonomi global ini, akan berpengaruh pada SUN. Indonesia sangat rentan jikalau terjadi gonjang ganjing global karena akan terjadi capital outflow," kata Yusuf.

Dari asumsi ekonomi makro, pemimpin ke depan harus menyusun target yang tepat sasaran. Hal ini diperlukan agar kebijakan yang akan diterbitkan sesuai dengan perkembangan ekonomi baik dalam negeri maupun luar negeri.

"Tentang asumsi makro yang ditetapkan pada kebijakan fiskal. Asumsi makro pertumbuhan ekonomi 4 tahun terakhir selalu meleset. Ini penting untuk mengeluarkan kebijakan pengeluaran dan belanja negara. Cuma pada 2017 asumsi sesuai dengan realisasi," tandasnya.  Rifanfinancindo.


Sumber : Liputan 6

Selasa, 09 April 2019

Rupiah Selasa Pagi Menguat ke Rp14.150/USD; Kenaikan Minyak Menekan Dollar Asia



Rifan Financindo - Dalam pergerakan pasar uang Selasa pagi ini (09/04), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau rebound, sementara dollar AS di pasar Asia berlanjut tertekan setelah loss di sesi global sebelumnya. Rupiah terhadap dollar AS pagi ini menguat 0,09% ke level Rp 14.150 dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 14.163.

Analis Vibiz Research Center melihat untuk hari ini perdagangan rupiah vs dollar dibuka menguat ke Rp 14.153, kemudian bergerak kuat sampai ke Rp14.150, dan terakhir pagi ini WIB terpantau di posisi Rp 14.150. Menguatnya rupiah terjadi sementara dollar di pasar uang Asia tertekan melanjutkan loss di sesi global sebelumnya karena naiknya mata uang berbasis komoditas oleh menanjaknya harga minyak bumi.

Baca Juga :

Indeks dollar, yang mengukur dollar terhadap keranjang enam mata uang saingan utamanya, pagi WIB ini turun ke level 96,63, dibandingkan level penutupan sesi sebelumnya di 96,67.

Sementara itu, IHSG Selasa pagi di sesi pertama, terpantau menguat 0,14% atau 8,687 poin ke level 6.435,045, sedangkan bursa saham kawasan Asia umumnya bergerak tipis setelah variatifnya tutup pasar Wall Street.

Analis Vibiz Research Center melihat dollar AS terhadap rupiah hari ini melemah, dengan dollar di pasar Asia melorot dengan menanjaknya mata uang berbasis komoditas oleh naiknya harga minyak bumi. Kisaran rupiah minggu ini dalam range di rentang Rp13890 – Rp14315 terhadap dollar AS. Rifan Financindo.


Sumber : Vibiznews

Senin, 08 April 2019

Ringkasan Penggerak Pasar Forex Minggu Lalu



PT Rifan Financindo - Kita perlu melihat pada event-event utama yang menggerakkan pasar minggu yang lalu supaya bisa mengikuti perkembangan kenaikan atau penurunan yang terjadi dari indikator utama yang ada dalam kalender forex dan memiliki pandangan kedepan.

Ekonomi AS memperoleh 196.000 posisi pada bulan Maret, kembali ke angka normal, dan juga upah kembali ke level sebelumnya: 3.2% y/y. Angka lainnya bercampur, dengan ISM PMI bergerak ke dua arah, penjualan eceran meleset pada angka umum namun menikmati revisi keatas dan lebih lagi.

Baca Juga :

Dolar AS muncul ke puncak terhadap rekan-rekannya sebagai tanda tambahan dari kelemahan yang terlihat Eropa, sementara Brexit tidak mendekat kepada resolusi apapun. PM Inggris May menggandeng oposisi partai Buruh namun pembicaraan diantara mereka tidak menghasilkan buah. Parlemen gagal untuk meloloskan resolusi apapun di dalam pemungutan suara indikatif. Pertarungan ini mencapai puncak yang lain sekarang.

Hal-hal yang positip yang terjadi pada minggu lalu:
  1. Pasar nampaknya telah mendapatkan pijakan mereka – Paling tidak untuk sekarang.
  2. Non-farm payrolls naik 196.000 m/o/m, diatas yang diperkirakan 172.000.
  3. Tingkat pengangguran tetap tidak berubah di 3.8%.
  4. Klaim pengangguran turun 10.000 m/o/m, dari 212.000 menjadi 202.000.
  5. Business inventories naik 0.8% m/o/m, diatas yang diperkirakan kenaikan 0.5%.
  6. Construction spending naik 1.0% m/o/m, mengalahkan yang diperkirakan penurunan 0.2%.
Hal-hal yang negatip yang terjadi pada minggu yang lalu:
  1. Laporan ADP employment menunjukkan kenaikan sebesar 129.000 untuk bulan Maret, dibawah dari yang diperkirakan 165.000.
  2. Total Job layoffs 60,587 pada bulan Maret, lebih besar daripada rata-rata bulanan kuartal keempat.
  3. Penjualan eceran turun 0.2% m/o/m, meleset dari yang diperkirakan kenaikan 0.3%.
  4. PMI manufacturing index mengakhiri bulan Maret di 52.4, dibawah sebelumnya 53.0.
  5. Durable goods orders turun 1.6% m/o/m, lebih rendah dari sebelumnya kenaikan sebesar 0.1%. PT Rifan Financindo.


Sumber : Vibiznews

Jumat, 05 April 2019

Rupiah Sentuh 14.145 per Dolar AS, IHSG Naik Terbatas

Akhir tahun 2017, IHSG Ditutup di Level 6.355,65 poin

Rifanfinancindo - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada awal perdagangan saham menjelang akhir pekan ini.

Penguatan IHSG juga didukung dari nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Jumat (5/4/2019), IHSG naik tipis 6,46 poin atau 0,10 persen ke posisi 6.501,09.

Pada pembukaan pukul 09.00 waktu JATS, IHSG menguat terbatas 4,2 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.498,83. Indeks saham LQ45 menguat 0,07 persen ke posisi 1.026,62. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.


Baca Juga :
Sebanyak 146 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. Namun, 64 saham melemah dan 122 saham diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan saham, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.506,80 dan terendah 6.496,88.

Total frekuensi perdagangan saham 26.081 kali dengan volume perdagangan 1,5 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 555,2 miliar. Investor asing beli saham Rp 20,73 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.145.

Sebagian besar sektor saham melemah. Sektor saham pertanian melemah 0,73 persen dan memimpin penurunan terbesar. Disusul sektor saham aneka industri susu 0,45 persen dan sektor saham industri dasar tergelincir 0,21 persen.

Sementara itu, sektor saham keuangan menguat 0,39 persen, dan bukukan penguatan terbesar.

Saham-saham yang menguat antara lain saham GLOB menanjak 18,78 persen ke posisi Rp 525 per saham, saham ISAT mendaki 3,67 persen ke posisi Rp 2.540 per saham, dan saham CASS menguat 3,6 persen ke posisi Rp 720 per saham.

Sementara itu, saham CAKK turun 9,73 persen ke posisi Rp 167 per saham, saham DART merosot 9,68 persen ke posisi Rp 280 per saham, dan saham MIKA tergelincir 2,75 persen ke posisi Rp 1.945 per saham.

Bursa saham Asia cenderung bervariasi. Indeks saham Korea Selatan Kospi naik tipis 0,01 persen, indeks saham Jepang Nikkei mendaki 0,26 persen dan indeks saham Singapura menguat 0,30 persen.

Prediksi Analis
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah pada perdagangan saham Jumat, 5 April 2019.

Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memprediksi, IHSG masih akan bergerak tertahan dengan support dan resistance 6410-6520.

Dia menjelaskan, kemungkinan IHSG untuk melaju ke zona merah itu terlihat secara teknikal.

"Indikasi terkoreksi masih cenderung membayangi melihat tren line jangka menengah yang membentuk pola bearish trend," ujarnya di Jakarta.

Berbeda, Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper mengungkapkan, IHSG akan menguat. Namun, penguatan itu pun masih akan bersifat terbatas.

"Indikator stochastic bergerak mendekati area overbought menandakan rentang penguatan akan terbatas di kisaran 6.481-6.506," ucap dia.

Adapun saham rekomendasi menurut Dennies ialah saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sedangkan Lanjar menganjurkan saham PT JAPFA Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), serta PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN). Rifanfinancindo.


Sumber : liputan 6

Kamis, 04 April 2019

Wall Street Menguat Imbas Harapan Negosiasi Perdagangan AS-China

Perdagangan Saham dan Bursa

Rifan Financindo - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat didorong reli saham produsen chip. Hal itu dipicu meningkatnya harapan kesepakatan perdagangan antara pemerintahan AS dan China.

Penguatan wall street pada perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB) ini memperpanjang awal yang kuat pada kuartal II 2019. Indeks saham Dow Jones naik 39 poin atau 0,15 persen ke posisi 26.218,13.

Indeks saham S&P 500 mendaki 6,16 poin atau 0,21 persen ke posisi 2.873,4. Indeks saham Nasdaq bertambah 46,86 poin atau 0,6 persen ke posisi 7.895,55.

Baca Juga :


Sentimen negosiasi perdagangan AS-China tampaknya masih mempengaruhi wall street. Penasihat Ekonom Gedung Putih, Larry Kudlow menuturkan, negosiasi AS dan China memiliki kemajuan. Kedua negara berharap dapat capai kesepakatan pada pekan ini.

Produsen chip, yang pendapatannya sangat bergantung pada China diuntungkan. Indeks the Philadelphia Semiconductor naik tiga persen, dan mencatatkan rekor tertinggi. Indeks ini pun ditutup 2,3 persen.

Saham Micro Devices Inc membukukan kenaikan 8,5 persen, dan mencatatkan kenaikan terbesar untuk indeks S&P 500. Saham Intel Corp naik dua persen usai Nomura Instinet merekomendasikan buy.

Meski demikian, sentimen posisi negosiasi perdagangan AS-China tidak diikuti data ekonomi. The Institute for Supply Management US services untuk sektor PMI pada Maret di bawah harapan. Bahkan terendah sejak Agustus 2017.

The ADP National Employment Report juga menunjukkan tenaga kerja swasta bertambah 129 ribu pada Maret. Angka ini juga di bawah harapan ekonom.

"Ini adalah ditekan dan didorong harapan negosiasi perdagangan AS-China lawan data ekonomi yang mengecewakan," ujar Chief Market Strategist Bruderman Asset Management, Oliver Pursche, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (4/4/2019).

Indeks saham S&P 500 keluar dari posisi tertingginya pada perdagangan saham sore di wall street usai laporan perusahaan cybersecurity Upguard menunjukkan jutaan catatan pengguna Facebook Inc secara tidak sengaja diposting di server cloud computing Amazon.com

Hal itu direspons negatif, dan saham Facebook susut 0,4 persen. "Facebook sepertinya sedang berjalan untuk penuhi regulasi. Setiap kali perusahaan memiliki pangsa pasar yang tinggi dan berada dalam sorotan politik, itu bukan kombinasi yang hebat," ujar Chief Investment Officer Bokeh Capital Partners, Kim Forrest. Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Selasa, 02 April 2019

Harga Minyak Naik Capai Posisi Tertinggi di Tahun Ini

Ilustrasi Harga Minyak Naik

PT Rifan Financindo - Harga minyak mentah dunia naik sekitar 2 persen ke posisi tertinggi. Di mana, harga minyak mentah Brent menyentuh USD 69 per barel, dipicu tanda-tanda positif tentang kondisi ekonomi global dan pasokan yang lebih ketat. Ini mendorong kenaikan harga minyak di kuartal pertama, dalam hampir satu dekade.

Melansir laman Reuters, Selasa (2/4/2019), harga minyak mentah Brent berakhir naik USD 1,43, atau 2,1 persen, menjadi USD 69,01 per barel setelah naik ke posisi USD 69,19 per barel, tertinggi sejak November.

Sementara Benchmark harga minyak global naik 27 persen pada periode Januari-Maret. Harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik USD 1,45, atau 2,4 persen, menjadi USD 61,59 per barel.
Baca Juga :

Ini setelah mencapai posisi tertinggi dalam hampir lima bulan di USD 61,72. Adapun WTI naik 32 persen di kuartal pertama.

"Data PMI manufaktur yang positif dari China dan AS, dua negara dengan ekonomi besar. Dan itu telah menguatkan minat di pasar," kata John Kilduff, mitra Again Capital Management di New York.

Pasar saham AS menguat setelah angka manufaktur yang optimis dari Amerika Serikat dan China meredakan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global.

Sektor manufaktur China secara tak terduga kembali ke pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam empat bulan di Maret.

Angka manufaktur AS juga tercatat lebih baik dari yang diperkirakan pada Maret, membantu investor mengabaikan data penjualan ritel Februari yang melemah.

Amerika Serikat dan China mengatakan telah membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan yang berakhir pada Jumat di Beijing.

Dewan Negara China mengatakan pada hari Minggu bahwa negara itu akan terus menangguhkan tarif tambahan untuk kendaraan dan suku cadang AS setelah 1 April. Ini menjadi isyarat niat baik setelah keputusan AS untuk menunda kenaikan tarif impor Tiongkok.

Di sisi lain, pemotongan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak membantu mendorong pasokan kelompok ke level terendah empat tahun pada Maret, menurut survei Reuters.

Saat eksportir utama Arab Saudi membuat pemotongan terlalu banyak, di sisi lain output Venezuela turun lebih jauh karena sanksi AS dan terjadinya pemadaman listrik.

Di sisi pasokan, booming produksi Amerika telah menguat. Pemerintah AS melaporkan pada hari Jumat bahwa output domestik produsen minyak mentah utama dunia turun lebih rendah pada Januari menjadi 11,9 juta barel per hari.

Perusahaan-perusahaan energi AS juga mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi ke level terendah dalam hampir satu tahun

Harga minyak juga ditopang sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela bersamaan dengan pemangkasan pasokan sukarela OPEC dan produsen besar lainnya.

Output minyak dari negara-negara OPEC turun 280.000 barel per hari (bph) dari Februari menjadi 30,4 juta bph, menurut survei Reuters. Ini merupakan tingkat bulanan terendah sejak 2015. PT Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Senin, 01 April 2019

Rupiah Awal Pekan Menguat ke Rp14.230/USD; Dollar Asia Terkoreksi Rilis Infllasi AS



Rifanfinancindo - Dalam pergerakan pasar uang awal bulan Senin pagi ini (01/04), nilai tukar rupiah terhadap dollar terpantau menguat, sementara dollar AS di pasar Asia tampak terkoreksi setelah rally 4 hari di sesi global sebelumnya. Rupiah terhadap dollar AS pagi ini menguat 0,07% ke level Rp 14.230 dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 14.240.

Analis Vibiz Research Center melihat untuk hari ini perdagangan rupiah vs dollar dibuka menguat ke Rp 14.225, kemudian bergerak lemah sampai ke Rp14.235, dan terakhir siang ini WIB terpantau di posisi Rp 14.225. Menguatnya rupiah terjadi sementara dollar di pasar uang Asia terkoreksi setelah rally 4 hari karena data inflasi AS yang lemah dan dapat menahan tren kenaikan dollar selanjutnya.

 
Baca Juga :

Indeks dollar, yang mengukur dollar terhadap keranjang enam mata uang saingan utamanya, menjelang siang WIB ini turun ke level 96,78, dibandingkan level penutupan sesi sebelumnya di 96,85.

Sementara itu, IHSG Senin pagi di sesi pertama, terpantau melemah 0,19% atau -11,838 poin ke level 6.456,593, sedangkan bursa saham kawasan Asia umumnya menguat dengan kenaikan data aktivitas ekonomi China.

Analis Vibiz Research Center melihat dollar AS terhadap rupiah hari ini melemah, sementara dollar di pasar Asia terkoreksi teknikal oleh rendahnya rilis inflasi AS setelah dollar rally 4 hari sebelumnya. Kisaran rupiah minggu ini dalam range di rentang Rp13890 – Rp14315 terhadap dollar AS. Rifanfinancindo.


Sumber : Vibiznews

 
Disclaimer: Semua informasi yang tersedia dalam blog ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan informasi yang terbaik, akan tetapi kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blog ini.

PT. Rifan Financindo Berjangka Surabaya
Wisma Bii Lt. 16 Jl. Pemuda 60-70 Surabaya 60271 Telp : 031-5349800(hunting), Fax : 031-5347800