English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 21 Juni 2017

Bursa Asia Dibuka Melemah karena Kejatuhan Harga Minyak






PT Rifan Financindo - Bursa Asia bergerak di zona merah pada awal perdagangan Rabu pekan ini. Penekan bursa saham di kawasan Asia ini adalah pelemahan harga minyak.

Mengutip CNBC, Rabu (21/6/2017), indeks Nikkei Jepang turun 0,44 ersen dan Kospi Korea Selatan melemah 0,97 persen di awal perdagangan.

Sedangkan Indeks Patokan Australia atau ASX 200 anjlok 1,43 persen yang disebabkan oleh penurunan sektor energi dan material yang masing-masing turun 2,38 persen dan 2,17 persen.

Saham-saham di sektor energi memang berada di bawah tekanan karena kejatuhan harga minyak.

Pelemahan harga minyak ini juga menekan Wall Street. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 61,85 poin atau 0,29 persen menjadi 21.467,14. Indeks S&P 500 kehilangan 16,43 poin atau turun 0,67 persen menjadi 2.437,03.

Harga minyak anjlok kurang lebih dua persen setelah beberapa produsen utama menyatakan mengalami kenaikan pasokan. Hal tersebut sangat membebani langkah dari organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) yang mengurangi produksi.

"Orang banyak berpikir saat ini kisaran baru harga minyak di US$ 45 per barel sampai US$ 55 per barel. Tetapi ternyata saat ini semakin rendah," jelas analis O'Neil Securities, New York, AS, Ken Polcari seperti dikutip dari Reuters.

Pada perdagangan Selasa, harga minyak Brent yang menjadi patokan harga dunia turun 89 sen ke level US$ 46,02 per barel. Angka ini terendah sejak 15 November atau dua minggu sebelum negara yang tergabung di OPEC dan beberapa negara non-OPEC sepakat untuk memotong produksi sebesar 1,8 juta barel per hari selama enam bulan dari bulan Januari.

Untuk kontrak berjangka minyak mentah AS untuk pengiriman Juli turun 97 sen menjadi US$ 43,23 per barel. Angka tersebut terendah sejak 16 September. PT Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Selasa, 20 Juni 2017

Bursa Asia Menguat Imbas Komentar The Fed


Rifanfinancindo - Bursa Asia menguat pada awal perdagangan Selasa (20/6/2017) menyusul penguatan dolar imbas dari komentar pejabat bank sentral The Federal Reserve.

The Federal Reserve kembali berniat untuk menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada tahun ini.

Nikkei 225 naik 0,86 persen dan indeks Korea Selatan Kospi naik 0,45 persen di awal perdagangan.

Kemudian, indeks Australia S&P/ASX 200 diperdagangkan 0,05 lebih tinggi seperti dilansir dari CNBC pada hari ini.

Dengan inflasi yang rendah di tengah tingkat pengangguran AS terendah dalam 16 tahun, Federal Reserve harus bergerak perlahan hanya untuk menaikkan suku bunga dan memangkas portofolio obligasinya, Presiden Fed Chicago Charles Evans mengatakan Senin.

Komentarnya tersebut menyusul pernyataan dari Presiden The Fed New York, William Dudley yang mengatakan, inflasi harus naik menyusul lapangan pekerjaan naik, yang mengizinkan the Fed untuk melanjutkan rencananya mengetatkan kebijakan moneter. Karena itu, dolar kemudian menguat.

Dolar terhadap sekeranjang mata uang lain diperdagangkan 97.61 malam tadi. Indeks dolar terakhir diperdagangkan 97,59. Rifanfinancindo.


Sumber : Liputan 6

Senin, 19 Juni 2017

Bursa Asia Menguat Tipis di Awal Pekan



Rifan Financindo - Bursa Asia sedikit menguat di awal pekan ini. Sementara di pasar mata uang, pound sterling dan euro stabil sebelum dimulainya perundingan mengenai persyaratan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Melansir laman Reuters, Senin (19/6/2017), indeks MSCI terbesar di Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen pada awal perdagangan. Sementara indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen. Saham Australia dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing melonjak 0,5 persen.

"Investor di kawasan Asia Pasifik menghadapi prospek yang beragam untuk memulai perdagangan," ujar Kepala Strategi Pasar CMC Markets di Sydney Michael McCarthy dalam catatannya.

Dia mengatakan, pasar saham Eropa dan AS berakhir menguat pada pekan lalu, namun harga komoditas yang lebih rendah dan pelemahan dolar AS mungkin membebani pasar pada awal perdagangan.

Pada hari Jumat, Wall Street berakhir mixed, dengan sektor saham energi mengimbangi penurunan saham konsumen, yang dikuasai kesepakatan Amazon.com untuk membeli toko makanan Whalk Foods.

Indeks S&P 500 ditutup mendatar. Sementara Dow Jones Industrial Average berakhir 0,1 persen dan Nasdaq kehilangan 0,2 persen.

Di pasar mata uang,  pound sterling sedikit turun di US$ 1,2772 dari posisinya pada Jumat. Namun ini lebih stabil dibandingkan saat usai terjadinya insiden van menabrak pejalan kaki di dekat stasiun Finsbury Park pada Senin ini. Mata uang Euro naik sedikit ke posisi US$ 1.1204.

Sekretaris Brexit David Davis akan memulai negosiasi di Brussels pada hari ini, yang akan diikuti pertemuan puncak pada Kamis dan Jumat. Di mana Perdana Menteri Inggris Theresa May akan bertemu- namun bukan untuk bernegosiasi dengan - para pemimpin Uni Eropa.

Seiring pertemuan ini, beberapa pejabat UE percaya bahwa pada akhirnya pemerintah Mei datang ke Brussels untuk melihat bagaimana negosiasi harus berjalan.

Adapun mata uang dolar usai data perumahan AS jatuh untuk bulan ketiga di Mei ke level terendah dalam delapan bulan. Kemudian barometer sentimen konsumen AS secara tak terduga turun pada awal Juni, memicu kekhawatiran tentang rencana Federal Reserve untuk tetap melakukan pengetatan kebijakan moneternya.

Indeks dolar yang mengukur mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang lain, tidak berubah pada posisi 97,179.

Di komoditas, minyak berjangka bertahan mendekati level terendah dalam enam minggu, karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan bisa terus membebani pasar.

Minyak mentah AS tergelincir 0,25 persen menjadi US$ 44,65 per barel. Sementara patokan global Brent turun 0,2 persen menjadi US$ 47,29. Rifan Financindo.



Sumber : Liputan 6

Jumat, 16 Juni 2017

Menunggu Kebijakan Bank Sentral Jepang, Bursa Asia Dibuka Stabil






PT Rifan Financindo - Bursa Asia bergerak stabil pada perdagangan Jumat pekan ini. Sedangkan pada penutupan perdagangan saham di Amerika Serikat (AS) kemarin, Wall Street tertekan.


Mengutip Reuters, Jumat (16/6/2017), indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bergerak mendatar. Jika dihitung dari awal pekan, bursa Asia melemah 0,7 persen.

Indeks Nikkei Jepang melonjak 0,5 persen sehingga mampu menutupi kerugian yang telah dialami sejak awal pekan.

Di Wall Street pada penutupan perdagangan kemarin, Dow Jones Industrial Average turun 14,66 poin, atau 0,07 persen ke level 21.359,9. Kemudian S&P 500 kehilangan 5,46 poin atau 0,22 persen ke level 2.432,46 dan Nasdaq Composite turun 29,39 atau 0,47 persen ke level 6.165,5.

Tekanan di Wall Street tersebut karena penurunan saham-saham teknologi. Saham Apple turun 0,6 persen sementara induk usaha Google, Alphabet tergelincir 0,8 persen setelah laporan analis dari kedua raksasa teknologi tersebut.

"Ini menjadi mimpi buruk bagi saham-saham teknologi karena investor cukup khawatir tentang siklus pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral AS yang kemungkinan besar membuat perusahaan-perusahaan tersebut bermasalah," jelas analis Pasar Saham ThinkMarkets, di London, Inggris,Naeem Aslam.

Indeks Kospi Korea Selatan bergerak tak mengikuti Wall Street. Kospi mampu dibuka naik didorong oleh penguatan saham dari Samsung Elecreonics yang melompat 0,5 persen di awal hari ini.

Perusahaan lain yang mendorong indeks Kospi adalah perusahaan semikonduktor SK Hynix yang naik 1,5 persen ke level tertinggi dalam 15 tahun ini.

Analis melihat bahwa saham-saham sektor teknologi di Asia tidak terpengaruh pergerakan saham-saham teknologi di AS. Kondisi bisnis di kawasan Asia lebih stabil sehingga mendorong kinerja perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.

Saat ini, para investor sedang mengamati arah kebijakan yang akan diambil oeh Bank Sentral Jepang. PT Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Kamis, 15 Juni 2017

Penyelidikan terhadap Trump Bikin Bursa Asia Melemah





Rifanfinancindo - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Hal tersebut terjadi usai ada laporan kalau Presiden AS Donald Trump sedang diselidiki penasihat khusus lantaran diduga menghalangi untuk mendapatkan kebenaran terkait keterlibatan Rusia saat Pilpres AS.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 0,1 persen. Bursa saham Asia melemah didorong indeks saham Jepang Nikkei turun 0,4 persen. Indeks saham Jepang Topix melemah 0,2 persen. Adapun indeks saham Australia tergelincir 0,3 persen. Indeks saham Korea Selatan Kospi sedikit berubah.

Minat investor terhadap aset berisiko berkurang usai data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang melambat. Selain itu, sentimen lainnya didorong dari bank sentral AS atau the Federal Reserve yang menaikkan suku bunga seperti yang diperkirakan. Bank sentral AS juga berencana mengurangi portofolio obligasi atau surat utang senilai US$ 4,2 triliun. Demikian seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (15/6/2017).

Inflasi melemah juga meragukan pandangan bank sentral AS kalau ekonomi terus menguat. Dari AS, Washington Post melaporkan kalau Donald Trump sedang diselidiki oleh penasihat khusus Robert Mueller.

Mueller menyelidiki dugaan Rusia terlibat pada Pilpres AS dan berkolusi dalam kampanye Trump. Tim kuasa hukum Trump pun menyangkal laporan itu.

Di pasar Asia juga sedang menunggu kebijakan bank sentral China apakah akan mengikuti bank sentral AS yang memperketat kebijakan moneternya.

Sedangkan di pasar uang, dolar AS kembali melambung dari level terendah dalam tujuh bulan terhadap sejumlah mata uang asing. Penguatan dolar AS terjadi usai the Federal Reserve menaikkan suku bunga. Selain itu the Federal Reserve berencana mengurangi portofolio obligasi senilai US$ 4,2 triliun.

Ketua the Federal Reserve Janet Yellen mengatakan kalau proses itu dapat dimulai segera. The Federal Reserve juga diperkirakan menaikkan suku bunga sebanyak satu kali lagi pada akhir tahun.

Namun keputusan the Federal Reserve dibayangi data ekonomi AS yang mengejutkan. Harga konsumen secara tak terduga turun menjadi 1,7 persen. Penjualan ritel turun 0,3 persen pada Mei, terbesar sejak Januari 2016. Data ekonomi itu membuat indeks dolar AS turun ke level 96,32 pada Rabu waktu setempat.

Euro pun diperdagangkan di kisaran US$ 1,12 usai capai level tertinggi dalam tujuh bulan. Dolar AS berada di posisi 109,35 terhadap yen. Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun 0,4 persen menjadi US$ 46,83 per barel di awal perdagangan di Asia. Rifanfinancindo.



Sumber : Liputan 6

Rabu, 14 Juni 2017

Bursa Asia Menguat Menanti Kebijakan The Fed




Rifan Financindo - Bursa Asia menguat pada perdagangan hari ini, mengekor Wall Street yang mencetak rekor. Sementara dolar dan obligasi menunggu kejelasan mengenai kebijakan moneter Federal Reserve, salah satunya perihal kenaikan suku bunga acuan.

Melansir laman Reuters, Rabu (14/6/2017), indeks MSCI terbesar di Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 0,2 persen, sementara Nikkei Jepang menguat 0,5 persen.

Sebelumnya Wall Street mencetak rekor dengan indeks Dow Jones Industrial Average naik 92,8 poin atau 0,44 persen menjadi 21.328,47. Indeks S&P 500 naik 10,96 poin atau 0,45 persen menjadi 2.440,35 dan Nasdaq Composite bertambah 44,90 poin atau 0,73 persen menjadi 6.220,37.

Adapun sektor teknologi pada indeks S&P 500 naik 0,9 persen, pulih dari penurunan terbesarnya selama dua hari dalam hampir satu tahun yang turut membebani pasar. Alhasil, saham Microsoft (MSFT.O) dan Facebook (FB.O), mendorong S&P 500  ke posisi lebih tinggi.

Rencananya pada Rabu ini, China akan melaporkan output industri dan penjualan ritel yang diperkirakan akan tumbuh sedikit lebih lambat meski masih solid. Laporan ini akan menjadi pembuka dari kebijakan Bank Sentral AS.
Bank Sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusannya pada Rabu ini juga dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri Ketua Janet Yellen.

Investor sepenuhnya memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga, karena pejabat Fed kerap memberikan sinyalnya. Ini akan menjadi perhatian tentang arah kebijakan terutama ketika bank sentral yang mungkin mulai mengurangi portofolio utang AS yang besar.

"Fokus utama minggu ini adalah kebijakan neraca Fed," kata Michelle Girard, Kepala Ekonom AS di RBS.

Dia mengatakan, meskipun pengumuman resmi mengenai perubahan kebijakan neraca akan dilakukan pada September, tetapi pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan disampaikan lebih cepat.

Terkait mata uang, nilai tukar Dolar AS turun ke US$ 1,3209 CAD, terendah sejak 28 Februari.
Sementara harga minyak menetap lebih tinggi usai berkurangnya pasokan dari negara-negara anggota OPEC ke pasar di seluruh dunia. Harga minyak patokan Brent 43 sen lebih tinggi menjadi US$ 48,72 per barel. Sementara minyak mentah AS naik 38 sen menjadi US$ 46,46 per barel. Rifan Financindo.


Sumber : Liputan 6

Selasa, 13 Juni 2017

Bertolak Belakang dengan Wall Street, Bursa Asia Menguat






PT Rifan Financindo - Bursa Asia menguat bertolak belakang dengan Wall Street yang melemah akibat terseret saham teknologi di hari kedua. Sementara nilai tukar Dolar Kanada melonjak seiring prediksi kenaikan tingkat suku bunga akan lebih cepat dari perkiraan.

Melansir laman Reuters, Selasa (13/6/2017), indeks MSCI terbesar di Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,1 persen pada awal perdagangan. Sementara indeks Nikkei Jepang tergelincir 0,3 persen.

Adapun KOSPI Korea Selatan naik 0,3 persen, terpicu stabilnya saham Samsung Electronics (005930.KS) yang sempat merosot 1,6 persen pada Senin. Kemudian pulihnya saham Naver Corp dan LG Innotek, yang  menyebabkan kerugian di pasar saham Asia kemarin.

Wall Street dilaporkan tertekan pada penutupan perdagangan. Saham-saham di sektor teknologi terutama saham Apple menjadi pendorong pelemahan bursa saham di Amerika Serikat (AS) tersebut.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 36,3 poin atau 0,17 persen menjadi 21.235,67. S&P 500 kehilangan 2,38 poin atau 0,10 persen menjadi 2.429,39. Sedangkan Nasdaq Composite melemah 32,45 poin atau 0,52 persen menjadi 6.175,47.

Wall Street tertekan pelemahan saham-saham di sektor teknologi terutama saham Apple. Pelemahan saham perusahaan yang dibangun oleh Steve Jobs ini mencapai 2,4 persen pada perdagangan di awal pekan ini melanjutkan penurunan dalam yang telah dicetak pada pekan lalu.

Salah satu penyebab pelemahan saham Apple setelah Mizuho Securities memangkas rekomendasi saham tersebut menjadi 'netral' dari sebelumnya adalah 'beli'. Menurut Mizuho Securities, harga saham Apple tidak tidak sesuai dengan kinerja fundamental perusahaan.

"Kita tidak hanya duduk diam melihat penurunan yang berkepanjangan pada saham teknologi AS. Meski ada kemungkinan besar sektor ini sekarang berperforma buruk dan saya telah menyarankan meningkatkan eksposur terhadap keuangan AS dalam perdagangan," ujar Chris Weston, Kepala Ahli Strategi pasar di IG di Melbourne, dalam sebuah catatannya.

Terkait mata uang, Dolar Kanada mempertahankan penguatannya di hari kedua ini, setelah pejabat Bank of Canada mengatakan jika bank sentral akan menilai apakah perlu mempertahankan tingkat suku bunga di rekor terendah saat pertumbuhan ekonomi terjadi.

Itu menandakan terjadinya perubahan nada dari Bank Sentral Kanada, yang mengatakan di awal tahun ini bahwa pemotongan suku bunga tetap tak akan terjadi.

Adapun Dolar AS gagal menaikkan kekuatannya terhadap Yen Jepang, menjelang kenaikan suku bunga yang diperkirakan dilakukan Federal Reserve pada minggu ini. Dolar mendatar di posisi 109,95  Yen, setelah jatuh 0,4 persen pada hari Senin. PT Rifan Financindo.




Sumber : Liputan 6

 
Disclaimer: Semua informasi yang tersedia dalam blog ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan informasi yang terbaik, akan tetapi kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blog ini.

PT. Rifan Financindo Berjangka Surabaya
Wisma Bii Lt. 16 Jl. Pemuda 60-70 Surabaya 60271 Telp : 031-5349800(hunting), Fax : 031-5347800